header1c.jpgheader1wb.jpgheader2c.jpgheader2wb.jpgheader3c.jpgheader3wb.jpgheader4c.jpgheader4wb.jpg

Menyiapkan lahan sudah menjadi suatu kewajiban bagi seorang calon pembudidaya. Karena lahan ini akan digunakan untuk membangun kolam dan fasilitas lainnya. Lahan untuk budidaya bisa milik sendiri, bisa dengan menyewa, bisa juga dengan mengontrak. Namun harus diingat oleh Anda bahwa untuk memilihnya tidak boleh sembarangan, karena tidak semua lahan cocok untuk budidaya lele. Karena itu, setiap lahan yang akan dipilih harus memenuhi tiga persyaratan pokok, yaitu persyaratan teknis, persyaratan sosial dan persyaratan ekonomis. Berikut persyaratan lengkapnya :

Pertama : Lahan yang akan dipilih untuk kolam lele bukan daerah banjir. Karena daerah itu membuat tidak aman bagi kelangsungan usaha. Meski dalam tahap awal tidak terjadi banjir, tetapi suatu saat bisa saja benar-benar terjadi. Itu harus dijaga. Untuk mengetahuinya Anda harus melakukan survei pada musim hujan. Bisa juga Anda menanyakan kepada penduduk sekitarnya.

Kedua   : Lahan yang akan dipilih untuk kolam lele harus memiliki sumber air sendiri, dan berada tepat di sampingnya. Tujuannya agar tidak tergantung pada orang lain. hal ini akan membuat lebih nyaman. Sumber air itu bisa berupa selokan, kali atau sumber air lainnya. Hal ini bertujuan agar tidak tergantung pada lahan orang lain.

Ketiga : Lahan yang akan dipilih untuk kolam lele juga harus terletak di bawah sumber air. Hal ini bertujuan agar airnya mudah dialirkan ke kolam-kolam, dan tidak perlu menggunakan pompa air. Penggunaan pompa memerlukan tambahan biaya, sehinga biaya produksi dapat meningkat.

Keempat: Kualitas airnya baik. Karena pada air tersebut, ikan pasti dapat hidup dengan baik, tumbuh dengan cepat dan berkembang biak dengan sempurna. Kualitas air di bakal lahan budidaya sebaiknya diperiksa di laboratorium. Namun cara itu memerlukan biaya, waktu dan tenaga. Salah satu cara yang sangat mudah dan murah adalah dengan melihat kehidupan ikan di perairan tersebut. Jika ikan nila, ikan mas dan ikan seribu bisa hidup, maka dapat dipastikan bahwa kualitas airnya baik.

Kelima  : Air untuk lahan lele harus tersedia sepanjang tahun. Artinya pada musim kemarau tidak kering. Ini bukan berarti harus berdebit besar, tetapi dapat mengisi kolam-kolamnya. Untuk memastikan keadaan tersebut, Anda dapat melihatnya pada musim kemarau. Jika berair, maka sumber air tersebut dapat mengalir sepanjang tahun. Jika tak sempat melihatnya, Anda bisa menanyakan kepada aparat desa dan penduduk sekitarnya.

Keenam : Jenis tanah lahan untuk lele harus baik dan tidak porous. Salah satu jenis tanah yang paling baik adalah lempung berpasir. Untuk melihat jenis tanah tersebut dapat dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dengan menggenggamnya. Bila digenggam tidak pecah, berarti tanah tersebut berjenis lempung berpasir. Artinya tanah tersebut baik untuk kolam lele.

Ketujuh : Lahan harus berada pada ketinggian antara 10 – 700 meter di atas permukaan laut. Ketinggian sebuah tempat sangat berkaitan erat dengan suhu udara dan suhu air. Air yang baik untuk kehidupan lele bersuhu antara 25° – 30° C. Dalam kisaran suhu tersebut, ikan lele dapat hidup dengan baik, tumbuh dengan cepat dan berkembang biak dengan sempurna. Untuk mendapatkannya, maka calon lahan tersebut harus berada pada ketinggian antara 10 – 700 meter di atas permukaan laut. Di atas 700m, suhu airnya dingin dan kurang cocok untuk lele.

Kedelapan : Luas lahan disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk menghitungnya dapat didasarkan pada dua aspek, yaitu tahapan produksi dan skala produksi. Berikut prakiraan kebutuhan lahan dalam skala produksi per bulan.

 

 

Sumber : Panduan Budi Daya Lele (BIPI), Usni Arie, 2012

Joomla templates by a4joomla